Wednesday, October 16, 2019

Aspek-Aspek Sosiologi Masyarakat Suku Buton Di Bau-bau provinsi Sulawesi Tenggara

Paper Sosiologi Hutan                                                                   Medan,     Oktober   2019

ASPEK-ASPEK SOSIOLOGI  MASYARAKAT SUKU BUTON DI BAU-BAU PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Dosen Penanggungjawab :
Agus Purwoko, S.Hut, M.Si

Disusun Oleh :
Rifai
171201038
Manejemen Hutan 5
















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
            Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada  waktunya. Adapun judul makalah ini adalah “Aspek-Aspek Sosiologi  Masyarakat Suku Buton Di Bau-bau provinsi Sulawesi Tenggara “ Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen mata kuliah Sosiologi Hutan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi terciptanya laporan yang lebih baik lagi. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.


                                                                                                           Medan,  Oktober 2019


                                                                                                                                            Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sosiologi pada hakikatnya bukanlah semata-mata ilmu murni (pure science) yang hanya mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak demi usaha peningkatan kualitas ilmu itu sendiri, namun sosiologi bisa juga menjadi ilmu terapan (applied science) yang menyajikan cara-cara untuk mempergunakan pengetahuan ilmiahnya guna memecahkan masalah praktis atau masalah sosoial yang perlu ditanggulangi.          
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat lepas dengan manusia lainnya dan mempunyai hasrat untuk berkomunikasi atau bergaul dengan orang lain.. Interaksi sosial merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat atau suatu organisasi.
Secara geografis, Pulau Buton diapit oleh lautan yaitu Laut Banda di sebelah utara dan timur, kemudian Laut Flores di sebelah selatannya, sedangkan di sebelah barat terdapat Selat Buton dan Teluk Bone. Di pulau ini, dulunya pernah berdiri sebuah kerajaan atau kesultanan yang bernama Buton atau Wolio yang beribukota di Bau-bau.
1.2 Rumusan Masalah
1.    Sejarah dari Suku Buton.
2.    Bagaimana Interaksi Sosial Suku Buton.
3.    Bagaimana Kelompok Suku Buton.
4.    Bagaimana Norma -  Norma Suku Buton.
5.    Bagaimana Struktur Sosial Suku Buton.

1.3 Tujuan
1.    Untuk mengetahui Sejarah Dari Suku Buton.
2.    Untuk mengetahui Interaksi Sosial Suku Buton.
3.    Untuk mengetahui Kelompok Suku Buton.
4.    Untuk mengethui Norma – Norma Suku Buton.
5.    Untuk mengetahui Struktur Sosial Suku Buton.

BAB II
ISI
2.1 Sejarah Suku Buton
Suku Buton adalah salah satu etnis yang mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Kesultanan Buton tersebut terletak di kepulauan Bau-bau provinsi Sulawesi Tenggara. Nenek moyang suku Buton berasa dari imigran yang datang dari Johor sekitar abad 15 dan kemudian mendirikan kerajaan Buton. Kerajaan tersebut bertahan hingga tahun 1960 dimana sultan terakhir meninggal dunia. Sepeninggalan sultan terakhir tersebut membuat tradisi kepulauan Buton tercerai berai.
Suku Buton adalah suku bangsa yang menempati wilayah Sulawesi Tenggara tepatnya di Kepulauan Buton. Suku Buton juga dapat di temui dengan Jumlah yang Signifikan di Luar Sulawesi Tenggara Seperti di Maluku UtaraKalimantan TimurMaluku, dan Papua.
Seperti suku-suku di Sulawesi kebanyakan, suku Buton juga merupakan suku pelaut. Orang-orang Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok Nusantara dengan menggunakan perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton.
Secara umum, orang Buton adalah masyarakat yang mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Daerah-daerah itu kini telah menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara diantaranya Kota BaubauKabupaten ButonKabupaten Buton SelatanKabupaten Buton TengahKabupaten Buton UtaraKabupaten WakatobiKabupaten BombanaKabupaten Muna, dan Kabupaten Muna Barat.
Selain merupakan masyarakat pelaut, masyarakat Buton juga sejak zaman dulu sudah mengenal pertanian. Komoditas yang ditanam antara lain padi ladang, jagung, singkong, ubi jalar, kapas, kelapa, sirih, nanas, pisang, dan segala kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Orang Buton terkenal pula dengan peradabannya yang tinggi dan hingga saat ini peninggalannya masih dapat dilihat di wilayah-wilayah Kesultanan Buton, diantaranya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia, Istana Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun, mata uang Kesultanan Buton yang bernama Kampua, dan banyak lagi.
2.2 Interaksi Sosial Suku Buton.
            Secara teoritis, sekurang-kurangnnya ada dua syarat bagi terjadinya suatu interaksi sosial, yaitu terjadinya kontak sosial dan komunikasi. Terjadinya suatu kontak sosial tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tergantung kepada adanya tanggapan terhadap tindakan tersebut.
Dalam hubungan kekerabatan masyarakat Suku Buton, seorang laki-laki bertugas mencari nafkah, sedangkan wanita menyiapkan makan, melakukan pekerjaan rumah tangga, membuat barang-barang dari tanah liat, menenun dan menyimpan uang yang telah dikumpulkan oleh kaum laki-laki.
Sejak dulu, orang Buton juga sangat mementingkan pendidikan. Pendidikan yang baik terhadap anak laki-laki dan perempuan membuat mereka memiliki kesusasteraan yang maju. Tidak ketinggalan pula dalam hal mempelajari bahasa asing. Karena itu, saat ini mulai terlihat hasil-hasil kemajuan di bidang sosial.
Sebagai kebiasaan dan kesadaran kolektif, masyarakat Suku Buton memilik tradisi yang bisa memperlancar pertumbuhan pribadi masyarakat. Hal ini erat hubungannya dengan keberadaan tradisi sebagai wadah penyimpanan norma sosial kemasyarakatan.
2.3 Kelompok Suku Buton.
Kelompok sosial sendiri berarti sekumpulan individu yang mempunyai pola perilaku yang sama dan saling berinteraksi atau berhubungan satu sama lain. Dengan demikian diantara individu-individu tersebut akan timbul hubungan yang lebih erat dan perasaan yang sama. Hubungan yang dihasilkan dalam setiap kelompok sosial biasanya bersifat timbal balik.
Kelompok suku buton diterapkan pula sistem kasta yang hanya diterapkan pada sistem pemerintahan dan ritual keagamaan saja. Berikut sistem kasta kerajaan Buton: Kaomu atau Kaumu (kaum ningrat/bangsawan) keturunan dari raja Wa Kakaa. Raja/Sultan dipilih dari golongan ini. Walaka, (elit penguasa) iaitu keturunan menurut garis bapak dari Founding Fathers Kerajaan  buton (mia patamiana). Mereka memegang jabatan penting di Kerajaan seperti mentri dan juga dewan. Mereka pula yang menunjuk siapa yang akan menjadi Raja/Sultan berikutnya. Papara atau disebut masyarakat biasa yang tinggal di wilayah kadie (desa) dan masih merdeka. Mereka dapat dipertimbangkan untuk menduduki jabatan tertentu di wilayah kadie, tetapi sama sekali tidak mempunyai jalan kepada kekuasaan di pusat. Babatua (budak), orang yang hidupnya bergantung terhadap orang lain/memiliki utang. meraka dapat diperjualbelikan atau dijadikan hadiah. Analalaki dan Limbo  Mereka adalah golongan kaomu dan walaka yang diturunkan darajatnya kerana melakukan kesalahan sosial dan berlaku tidak pantas sesuai dengan status sosialnya.
2.4 Norma -  Norma Suku Buton.
Dalam masyarakat manusia selalu ada, dan selalu dimungkinkan adanya, apa yang disebut double reality. Di satu pihak ada sistem fakta, yaitu system yang tersusun atas segala apa yang senyatanya di dalam kenyataan ada, dan di lain pihak ada system normative, yaitu system yang berada di dalam mental yang membayangkan segala apa yang seharusnya ada. Sistem fakta dan sistem normative tersebut di atas itu sesungguhnya bukan dua realitas yang identik. Namun, meskipun tidak identik, kedua realitas itu pun sama sekali tidak saling berpisahan. Antara keduanya ada pertalian yang erat; secara timbal balik, yang satu amat memengaruhi yang lainnya. Norma  adat adalah salah satu buah dari budaya manusia, yang mencakup saling hubungan rasa dan akhlak manusia, utamnya saling hubungan manusia dengan sesamanya baik yang bersifat perseorangan, kelompok, golongan, suku, bangsa dan antar bangsa, termasuk silang hubungan manusia itu sendiri dengan tuhannya, makhluk lainnya dan alam lingkungannya. Karenanya, adat istiadat mencakup nilai-nilai ritual dan nilai-nilai sosial yang bersifat absolut dan relatif, yang berlaku sehari-hari dan yang sewaktu-waktu, yang tertulis dan tidak tertulis.
2.5 Struktur Sosial Suku Buton
Struktur sosial menurut Selo Soemardjan dan Soelaman Soemardi adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial pokok, yaitu kaidah-kiadah sosial (normanorma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, serta lapisanlapisan sosial. Di antara struktur sosial yang ada, yang menonjol adalah lapisan-lapisan sosial atau stratifikasi sosial. Untuk hal yang terakhir ini akan dibahas dalam bagian berikutnya. Stratifikasi sosial dapat didefinisikan sebagai perbedaan anggota masyarakat berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki seseorang dibedakan lagi antara status yang diperoleh (ascribed status) dan status yang diraih (achieved status). Status yang diperoleh misalnya perbedaaan usia, perbedaan jenis kelamin, hubungan kekerabatan dan keanggotaan dalam kelompok seperti kasta dan kelas sosial.
Satu hal yang diketahui bersama, bahwa jauh sebelum Islam merambah wilayah-wilayah nusantara, penduduk wilayah ini telah menganut berbagai sistem kepercayaan, baik yang bersumber dari Hindu, Budha maupun kepercayaan lokal lainnya. Di Buton misalnya, pengaruh Hindu dapat dilihat dalam silsilah raja-raja, nama raja-raja tampak Hinduistik. Nama Sibarata, suami Wakaka, boleh jadi berasal dari kata “Bhattara” bahasa Sangsekerta. Kata ini adalah nama suatu dewa dalam Hindu. Demikian pula nama Bataraguru, raja ketiga, nama Tuarade, raja keempat, nama Rajamulae, raja kelima, semuanya berkaitan dengan kebudayaan Hindu. Di samping itu, dalam aspek keyakinan juga pengaruh ini. Paham “reinkarnasi” yang masih kuat di Buton hingga sekarang, diperkirakan sebagai pengaruh ajaran Hindu sebelum Islam.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Suku Buton adalah salah satu etnis yang mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Kesultanan Buton tersebut terletak di kepulauan Bau-bau provinsi Sulawesi Tenggara.
2. Kelompok Walaka, (elit penguasa) suku buton  yiaitu keturunan menurut garis bapak dari Founding Fathers Kerajaan  buton (mia patamiana). Mereka memegang jabatan penting di Kerajaan seperti mentri dan juga dewan. Mereka pula yang menunjuk siapa yang akan menjadi Raja/Sultan berikutnya.
3.  Suku Buton masih memiliki keyakinan atau Paham “reinkarnasi” yang masih kuat di Buton hingga sekarang, diperkirakan sebagai pengaruh ajaran Hindu sebelum Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar. 2016. Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Interaksi Sosial Pada Perawat Di Rumah Sakit Islam Surakarta. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Halking, 2014. Tradisi Perkawinan Adat Buton Provinsi Sulawesi Tenggara (Kajian tentang Hubungan Timbal Balik Antara Ajaran Islam dan Tradisi Lokal). Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Makasar.

I Made Asdhiana, Tradisi Suku Buton, Keriaan "Pekande-kandea".  https://travel.kompas.com/read/2015/06/15/101200927/Tradisi.Suku.Buton.Keriaan.Pekande-kandea.?page=all. diunduh pada tanggal 09 Oktober 2019.

Mahruddin. 2014. Tradisi Haroa Masyarakat Islam Buton Sebagai Media Resolusi Konflik Dalam Menciptakan Perdamaian Umat Sekaligus Media Integrasi Antara Suku Bangsa.

Pengantar Sosiologi Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin Makassar 2009.

Sahlan. 2012. Kearifan Lokal Pada Kabanti Masyarakat Buton Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Karakter. Jurnal el Harakah Vol.14 No.2.


28 comments:

  1. Pai besok bantu kami buat peta yah wkwkwk

    ReplyDelete
  2. Replies
    1. perubahan sosial yang terjadi di suku buton menurut litelatur yang saya baca. dulu suku buton adalah kerajaan buton, yang dimpin oleh seorang sultan, dahulu kepercayaan kerajaan buton masih menganut kepercayaan Hindu dan Budha tetapi dengan masuknya agama islam yang di bawah oleh Datuk ri Bandang islam menyebar luas ke kerajaan buton. puncaknya ketika Syeikh Abdul Wahid bin Syarif Sulaiman al-Fathani mengislam kan raja buton sehingga kerajaan buton menjadi kerajaan islam. dan sampai sekarang suku buton mayoritas atau hampir selruhnya menganut agama islam. mungkin itu yang bisa saya jawab lebih dan kurang saya mohon maaf

      Delete
  3. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  4. Siapakah tokoh yang membawa agama islam masuk ke suku buton?

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih buat pertanaan nya, dari litelatur yang saya baca pembawa agama islam ke buton itu adalah Datuk ri Bandang yang berasal dari Minangkabau sekitar tahun 1605 M.

      Delete
  5. This comment has been removed by the author.

    ReplyDelete
    Replies
    1. terimakasih buat kritiknya. saya membuat blog ini murni karena tugas dan ketertarikan saya terhadap dunia literasi, jadi jika ada yag bilang blog ini di buat hanya untuk mencari materill itu tidak benar. terimakasih

      Delete
  6. This comment has been removed by a blog administrator.

    ReplyDelete
  7. Ditunggu karya selajutnya yg lbih mengedukasi para pembaca gan.

    ReplyDelete
  8. thanks gan infonya sangat bermanfuut

    ReplyDelete
  9. Baru tahu ada suku botom
    Kalau bisa lebih dikembangkan lagi tntng suku tersebut
    Karena mash bnyk masyarakat yg belum mengetahui tentang suku botom

    ReplyDelete
  10. Tapi menarik sih pembahasannya
    Bagus, keren, dan sangat membantu untuk mengetahui suku botom

    ReplyDelete