Wednesday, October 16, 2019

Aspek-Aspek Sosiologi Masyarakat Suku Buton Di Bau-bau provinsi Sulawesi Tenggara

Paper Sosiologi Hutan                                                                   Medan,     Oktober   2019

ASPEK-ASPEK SOSIOLOGI  MASYARAKAT SUKU BUTON DI BAU-BAU PROVINSI SULAWESI TENGGARA

Dosen Penanggungjawab :
Agus Purwoko, S.Hut, M.Si

Disusun Oleh :
Rifai
171201038
Manejemen Hutan 5
















PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN
2019
KATA PENGANTAR
            Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada  waktunya. Adapun judul makalah ini adalah “Aspek-Aspek Sosiologi  Masyarakat Suku Buton Di Bau-bau provinsi Sulawesi Tenggara “ Pada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen mata kuliah Sosiologi Hutan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi terciptanya laporan yang lebih baik lagi. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.


                                                                                                           Medan,  Oktober 2019


                                                                                                                                            Penulis

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sosiologi pada hakikatnya bukanlah semata-mata ilmu murni (pure science) yang hanya mengembangkan ilmu pengetahuan secara abstrak demi usaha peningkatan kualitas ilmu itu sendiri, namun sosiologi bisa juga menjadi ilmu terapan (applied science) yang menyajikan cara-cara untuk mempergunakan pengetahuan ilmiahnya guna memecahkan masalah praktis atau masalah sosoial yang perlu ditanggulangi.          
Pada hakekatnya manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat lepas dengan manusia lainnya dan mempunyai hasrat untuk berkomunikasi atau bergaul dengan orang lain.. Interaksi sosial merupakan suatu fondasi dari hubungan yang berupa tindakan yang berdasarkan norma dan nilai sosial yang berlaku dan diterapkan di dalam masyarakat atau suatu organisasi.
Secara geografis, Pulau Buton diapit oleh lautan yaitu Laut Banda di sebelah utara dan timur, kemudian Laut Flores di sebelah selatannya, sedangkan di sebelah barat terdapat Selat Buton dan Teluk Bone. Di pulau ini, dulunya pernah berdiri sebuah kerajaan atau kesultanan yang bernama Buton atau Wolio yang beribukota di Bau-bau.
1.2 Rumusan Masalah
1.    Sejarah dari Suku Buton.
2.    Bagaimana Interaksi Sosial Suku Buton.
3.    Bagaimana Kelompok Suku Buton.
4.    Bagaimana Norma -  Norma Suku Buton.
5.    Bagaimana Struktur Sosial Suku Buton.

1.3 Tujuan
1.    Untuk mengetahui Sejarah Dari Suku Buton.
2.    Untuk mengetahui Interaksi Sosial Suku Buton.
3.    Untuk mengetahui Kelompok Suku Buton.
4.    Untuk mengethui Norma – Norma Suku Buton.
5.    Untuk mengetahui Struktur Sosial Suku Buton.

BAB II
ISI
2.1 Sejarah Suku Buton
Suku Buton adalah salah satu etnis yang mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Kesultanan Buton tersebut terletak di kepulauan Bau-bau provinsi Sulawesi Tenggara. Nenek moyang suku Buton berasa dari imigran yang datang dari Johor sekitar abad 15 dan kemudian mendirikan kerajaan Buton. Kerajaan tersebut bertahan hingga tahun 1960 dimana sultan terakhir meninggal dunia. Sepeninggalan sultan terakhir tersebut membuat tradisi kepulauan Buton tercerai berai.
Suku Buton adalah suku bangsa yang menempati wilayah Sulawesi Tenggara tepatnya di Kepulauan Buton. Suku Buton juga dapat di temui dengan Jumlah yang Signifikan di Luar Sulawesi Tenggara Seperti di Maluku UtaraKalimantan TimurMaluku, dan Papua.
Seperti suku-suku di Sulawesi kebanyakan, suku Buton juga merupakan suku pelaut. Orang-orang Buton sejak lama merantau ke seluruh pelosok Nusantara dengan menggunakan perahu berukuran kecil yang hanya dapat menampung lima orang, hingga perahu besar yang dapat memuat barang sekitar 150 ton.
Secara umum, orang Buton adalah masyarakat yang mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Daerah-daerah itu kini telah menjadi beberapa kabupaten dan kota di Sulawesi Tenggara diantaranya Kota BaubauKabupaten ButonKabupaten Buton SelatanKabupaten Buton TengahKabupaten Buton UtaraKabupaten WakatobiKabupaten BombanaKabupaten Muna, dan Kabupaten Muna Barat.
Selain merupakan masyarakat pelaut, masyarakat Buton juga sejak zaman dulu sudah mengenal pertanian. Komoditas yang ditanam antara lain padi ladang, jagung, singkong, ubi jalar, kapas, kelapa, sirih, nanas, pisang, dan segala kebutuhan hidup mereka sehari-hari.
Orang Buton terkenal pula dengan peradabannya yang tinggi dan hingga saat ini peninggalannya masih dapat dilihat di wilayah-wilayah Kesultanan Buton, diantaranya Benteng Keraton Buton yang merupakan benteng terbesar di dunia, Istana Malige yang merupakan rumah adat tradisional Buton yang berdiri kokoh setinggi empat tingkat tanpa menggunakan sebatang paku pun, mata uang Kesultanan Buton yang bernama Kampua, dan banyak lagi.
2.2 Interaksi Sosial Suku Buton.
            Secara teoritis, sekurang-kurangnnya ada dua syarat bagi terjadinya suatu interaksi sosial, yaitu terjadinya kontak sosial dan komunikasi. Terjadinya suatu kontak sosial tidaklah semata-mata tergantung dari tindakan, tetapi juga tergantung kepada adanya tanggapan terhadap tindakan tersebut.
Dalam hubungan kekerabatan masyarakat Suku Buton, seorang laki-laki bertugas mencari nafkah, sedangkan wanita menyiapkan makan, melakukan pekerjaan rumah tangga, membuat barang-barang dari tanah liat, menenun dan menyimpan uang yang telah dikumpulkan oleh kaum laki-laki.
Sejak dulu, orang Buton juga sangat mementingkan pendidikan. Pendidikan yang baik terhadap anak laki-laki dan perempuan membuat mereka memiliki kesusasteraan yang maju. Tidak ketinggalan pula dalam hal mempelajari bahasa asing. Karena itu, saat ini mulai terlihat hasil-hasil kemajuan di bidang sosial.
Sebagai kebiasaan dan kesadaran kolektif, masyarakat Suku Buton memilik tradisi yang bisa memperlancar pertumbuhan pribadi masyarakat. Hal ini erat hubungannya dengan keberadaan tradisi sebagai wadah penyimpanan norma sosial kemasyarakatan.
2.3 Kelompok Suku Buton.
Kelompok sosial sendiri berarti sekumpulan individu yang mempunyai pola perilaku yang sama dan saling berinteraksi atau berhubungan satu sama lain. Dengan demikian diantara individu-individu tersebut akan timbul hubungan yang lebih erat dan perasaan yang sama. Hubungan yang dihasilkan dalam setiap kelompok sosial biasanya bersifat timbal balik.
Kelompok suku buton diterapkan pula sistem kasta yang hanya diterapkan pada sistem pemerintahan dan ritual keagamaan saja. Berikut sistem kasta kerajaan Buton: Kaomu atau Kaumu (kaum ningrat/bangsawan) keturunan dari raja Wa Kakaa. Raja/Sultan dipilih dari golongan ini. Walaka, (elit penguasa) iaitu keturunan menurut garis bapak dari Founding Fathers Kerajaan  buton (mia patamiana). Mereka memegang jabatan penting di Kerajaan seperti mentri dan juga dewan. Mereka pula yang menunjuk siapa yang akan menjadi Raja/Sultan berikutnya. Papara atau disebut masyarakat biasa yang tinggal di wilayah kadie (desa) dan masih merdeka. Mereka dapat dipertimbangkan untuk menduduki jabatan tertentu di wilayah kadie, tetapi sama sekali tidak mempunyai jalan kepada kekuasaan di pusat. Babatua (budak), orang yang hidupnya bergantung terhadap orang lain/memiliki utang. meraka dapat diperjualbelikan atau dijadikan hadiah. Analalaki dan Limbo  Mereka adalah golongan kaomu dan walaka yang diturunkan darajatnya kerana melakukan kesalahan sosial dan berlaku tidak pantas sesuai dengan status sosialnya.
2.4 Norma -  Norma Suku Buton.
Dalam masyarakat manusia selalu ada, dan selalu dimungkinkan adanya, apa yang disebut double reality. Di satu pihak ada sistem fakta, yaitu system yang tersusun atas segala apa yang senyatanya di dalam kenyataan ada, dan di lain pihak ada system normative, yaitu system yang berada di dalam mental yang membayangkan segala apa yang seharusnya ada. Sistem fakta dan sistem normative tersebut di atas itu sesungguhnya bukan dua realitas yang identik. Namun, meskipun tidak identik, kedua realitas itu pun sama sekali tidak saling berpisahan. Antara keduanya ada pertalian yang erat; secara timbal balik, yang satu amat memengaruhi yang lainnya. Norma  adat adalah salah satu buah dari budaya manusia, yang mencakup saling hubungan rasa dan akhlak manusia, utamnya saling hubungan manusia dengan sesamanya baik yang bersifat perseorangan, kelompok, golongan, suku, bangsa dan antar bangsa, termasuk silang hubungan manusia itu sendiri dengan tuhannya, makhluk lainnya dan alam lingkungannya. Karenanya, adat istiadat mencakup nilai-nilai ritual dan nilai-nilai sosial yang bersifat absolut dan relatif, yang berlaku sehari-hari dan yang sewaktu-waktu, yang tertulis dan tidak tertulis.
2.5 Struktur Sosial Suku Buton
Struktur sosial menurut Selo Soemardjan dan Soelaman Soemardi adalah keseluruhan jalinan antara unsur-unsur sosial pokok, yaitu kaidah-kiadah sosial (normanorma sosial), lembaga-lembaga sosial, kelompok-kelompok sosial, serta lapisanlapisan sosial. Di antara struktur sosial yang ada, yang menonjol adalah lapisan-lapisan sosial atau stratifikasi sosial. Untuk hal yang terakhir ini akan dibahas dalam bagian berikutnya. Stratifikasi sosial dapat didefinisikan sebagai perbedaan anggota masyarakat berdasarkan status yang dimilikinya. Status yang dimiliki seseorang dibedakan lagi antara status yang diperoleh (ascribed status) dan status yang diraih (achieved status). Status yang diperoleh misalnya perbedaaan usia, perbedaan jenis kelamin, hubungan kekerabatan dan keanggotaan dalam kelompok seperti kasta dan kelas sosial.
Satu hal yang diketahui bersama, bahwa jauh sebelum Islam merambah wilayah-wilayah nusantara, penduduk wilayah ini telah menganut berbagai sistem kepercayaan, baik yang bersumber dari Hindu, Budha maupun kepercayaan lokal lainnya. Di Buton misalnya, pengaruh Hindu dapat dilihat dalam silsilah raja-raja, nama raja-raja tampak Hinduistik. Nama Sibarata, suami Wakaka, boleh jadi berasal dari kata “Bhattara” bahasa Sangsekerta. Kata ini adalah nama suatu dewa dalam Hindu. Demikian pula nama Bataraguru, raja ketiga, nama Tuarade, raja keempat, nama Rajamulae, raja kelima, semuanya berkaitan dengan kebudayaan Hindu. Di samping itu, dalam aspek keyakinan juga pengaruh ini. Paham “reinkarnasi” yang masih kuat di Buton hingga sekarang, diperkirakan sebagai pengaruh ajaran Hindu sebelum Islam.

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
1. Suku Buton adalah salah satu etnis yang mendiami wilayah kekuasaan Kesultanan Buton. Kesultanan Buton tersebut terletak di kepulauan Bau-bau provinsi Sulawesi Tenggara.
2. Kelompok Walaka, (elit penguasa) suku buton  yiaitu keturunan menurut garis bapak dari Founding Fathers Kerajaan  buton (mia patamiana). Mereka memegang jabatan penting di Kerajaan seperti mentri dan juga dewan. Mereka pula yang menunjuk siapa yang akan menjadi Raja/Sultan berikutnya.
3.  Suku Buton masih memiliki keyakinan atau Paham “reinkarnasi” yang masih kuat di Buton hingga sekarang, diperkirakan sebagai pengaruh ajaran Hindu sebelum Islam.
DAFTAR PUSTAKA
Anwar. 2016. Hubungan Antara Konsep Diri Dengan Interaksi Sosial Pada Perawat Di Rumah Sakit Islam Surakarta. Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Halking, 2014. Tradisi Perkawinan Adat Buton Provinsi Sulawesi Tenggara (Kajian tentang Hubungan Timbal Balik Antara Ajaran Islam dan Tradisi Lokal). Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar. Makasar.

I Made Asdhiana, Tradisi Suku Buton, Keriaan "Pekande-kandea".  https://travel.kompas.com/read/2015/06/15/101200927/Tradisi.Suku.Buton.Keriaan.Pekande-kandea.?page=all. diunduh pada tanggal 09 Oktober 2019.

Mahruddin. 2014. Tradisi Haroa Masyarakat Islam Buton Sebagai Media Resolusi Konflik Dalam Menciptakan Perdamaian Umat Sekaligus Media Integrasi Antara Suku Bangsa.

Pengantar Sosiologi Kehutanan Fakultas Kehutanan Universitas Hasanuddin Makassar 2009.

Sahlan. 2012. Kearifan Lokal Pada Kabanti Masyarakat Buton Dan Relevansinya Dengan Pendidikan Karakter. Jurnal el Harakah Vol.14 No.2.

Tuesday, September 24, 2019

Manfaat dan Nilai Ekonomi Rotan


Paper Penilaian Hutan                                                                                  Medan,     September   2019

MANFAAT DAN NILAI EKONOMI ROTAN (Calameae) SEBAGAI SALAH SATU KOMODITI KEHUTANAN

Dosen Penanggungjawab :
Agus Purwoko, S.Hut, M.Si

Disusun Oleh :
Rifai
171201038
Manejemen Hutan 5













PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
2019


KATA PENGANTAR
            Puji syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada  waktunya. Adapun judul makalah ini adalah “Manfaat dan Nilai Ekonomi  Rotan (Calameae) sebagai Salah Satu Komoditi KehutnanPada kesempatan ini penulis mengucapkan terimakasih kepada Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen mata kuliah Penilaian Hutan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang membangun demi terciptanya laporan yang lebih baik lagi. Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih.


                                                                                                           Medan, September  2019


                                                                                               Penulis


DAFTAR ISI
    Halaman

KATA PENGANTAR........................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
           1.1 Latar Belakang  ................................................................................... 1
           1.2 Rumusan masalah................................................................................ 2
           1.3Tujuan  ................................................................................................. 2

BAB 2 ISI
2.1. Apa itu Rotan....................................................................................... 3
2.2 Dimana tempt tumbuh dan penyebaran Rotan...................................... 3
2.3 Apa kegunaan dari Rotan...................................................................... 4
2.4 Bagaimana distribusi dan pemasaran Rotan......................................... 4
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan .......................................................................................... 6

DAFTAR PUSTAKA



BAB I
PENDAHULUAN
Hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang secara  keseluruhan merupakan persekutuan hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah sebagai hutan. Jika pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang sumberdaya ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi, yaitu: lahan, vegetasi bersama semua komponen hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Sedangkan kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang berkaitan dengan hutan, mengandung sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat luas pula dari kegiatan-kegiatan yang bersifat biologis seperti rangkain proses silvikultur sampai dengan berbagai kegiatan administrasi pengurusan hutan (Alam dkk., 2009).
Keragaman jenis tanaman hutan Indonesia sudah banyak diketahui manfaatnya, baik manfaat langsung (tangible) maupun manfaat tidak langsung (intangible). Tercatat 30.000 – 40.000 jenis tumbuhan tersebar di seluruh kepulauan Indonesia. Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan komoditas yang memiliki nilai jual yang cukup potensial serta dapat diandalkan sebagai sumber pendapatan masyarakat sekitar hutan dan devisa negara. Beberapa jenis
komoditas yang cukup berperan dalam perdagangan di dalam dan luar negeri antara lain rotan, kulit gemor, biji tengkawang, kopal, resis/damar, getah jelutung, kayu manis, gaharu, dan lain-lain (Moko, 2008).
Rotan merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu yang cukup penting dan potensial. Rotan juga merupakan tanaman yang tumbuh di daerah tropis, sehingga tanaman ini banyak dijumpai di Indonesia. Rotan Indonesia mempunyai posisi yang dominan di pasar dunia, yaitu menguasai 80% bahan baku rotan dunia. Selain di Indonesia, tanaman produk rotan dapat pula dijumpai di Philipina, Thailand, Malaysia, India, Vietnam, Madagaskar, dan Maroko. Namum, potensi terbesar saat ini terdapat di Indonesia (Tampubolon dkk., 2013).
Rotan merupakan salah satu tumbuhan hutan yang mempunyai nilai komersil cukup tinggi, selain itu sebagai sumber devisa negara yang pemanfaatannya banyak melibatkan petani (Kalima dan Jasni, 2010). Rotan pada umumnya tumbuh secara alami, menyebar menyebar mulai dari daerah pantai hingga pegunungan, pada elevasi 0-2900 mdpl. Secara ekologis rotan tumbuh dengan subur diberbagai tempat, baik dataran rendah maupun agak tinggi, terutama di daerah yang lembab seperti pinggiran sungai . Hampir seluruh bagian rotan dapat digunakan baik sebagai konstruksi kursi, pengikat, maupun komponen desainnya (Agus dkk., 2014).
Tanaman rotan memiliki berbagai keunikan, antara lain panjang batang dapat mencapai ± 100 meter walaupun diameternya hanya sebesar ibu jari tangan dan ibu jari kaki. Batang rotan memiliki kelenturan dan kekuatan luar biasa, oleh karena itu batang rotan dapat dibuat menjadi bermacam-macam bentuk perabotan rumah tangga, hiasan-hiasan dan alat pendukung sehari-hari. Data tahun 2006 menunjukan potensi tegakan rotan di Kalimantan mencapai 315.181,86 ton kering dari potensi tegakan rotan nasional 2.433.230,45 ton kering. Rotan sangat diperlukan oleh masyarakat dalam kegiatan keseharian dan masyarakat mengambil rotan lansung dari hutan. Rotan tumbuh secara alami terutama di hutan primer, hutan sekunder seperti perkebunan (karet, durian dan tengkawang), tembawang dan tepi sungai (Riantono dkk., 2018).
            Salah satu produk hasil hutan bukan kayu yang memiliki nilai pasar tinggi adalah rotan. Indonesia mampu memasok 80% kebutuhan rotan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa hutan di Indonesia dapat merupakan tempat yang sesuai untuk pertumbuhan berbagai jenis rotan. Variasi jenis rotan yang ada di Indonesia sekitar 312 jenis yang terdiri dari 8 marga dari 13marga rotan di dunia. Ada 15 jenis rotan yang termasuk komersial (Sahwalita, 2014).

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa itu Rotan.
2. Dimana tempat tumbuh dan penyebaran Rotan.
3. Apa kegunaan dari Rotan.
4. Bagaimana distribusi dan pemasarn Rotan.

1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu Rotan.
2. Untuk mengetahui dimana tempat tumbuh dan penyebaran Rotan.
3. Untuk mengetahui apa kegunaan dari Rotan.

4. Untuk mengetahui bagaimana distribusi dan pemasaran Rotan.

BAB II
ISI
2.1. Apa itu Rotan
            Rotan asalnya merupakan tumbuhan yang tergolong dalam kelompok palem-paleman yang hidupnya merambat. Golongan ini termasuk dalamsub-famili calamoideae yang mempunyai 13 marga dan sekitar 600 jenis hidup pada kawasan hutan hujan tropis di Asia Tenggara. Kelompok rotan pada umumnya tumbuh dan dijumpai pada daerah yang beriklim basah. Di Indonesia, jenis ini dapat di temui di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa kepulauan lainnya. Beberapa laporan menyebutkan bahwa di Jawa dapat dijumpai sekitar 25 jenis, Sumatera 75 jenis, Kalimantan 100 jenis, dan Sulawesi mencapai 25 jenis. Selain itu rotan juga dapat dijumpai di beberapa pulau lainnya di Indonesia. Disini dapat dilihat, Indonesia memiliki sumberdaya alami yang cukup kuat untuk material rotan.
            Rotan merupakan salah satu tumbuhan hutan yang mempunyai nilai komersil cukup tinggi, selain itu sebagai sumber devisi negara yang pemanfaatannya banyak melibatkan petani. Rotan pada umumya tumbuh secara alami, menyebar mulai dari daerah pantai hingga peguungan, pada elevasi 0-2900 mdpl. Secara ekologis rotan tumbuh dengan subur diberbagai tempat, baik dataran rendah maupun agak tinggi, terutama di daerah yang lembab seperti pinggiran sungai. Hampir seluruh bagian rotan dapat digunakan baik sebagai kontruksi kursi, pengikat, maupun komponen desainnya. Sifat fisik rotan merupakan sifat khas yang dimiliki oleh suatu jenis rotan secara alamiah.
2.2. Tempat Tumbuh dan Penyebaran Rotan
Rotan secara umum tumbuh baik di daerah hutan hujan tropika. Di dunia, trotan tumbuh menyebar mulai dari Kepulauan Fiji dibagian Timur sampi Afrika di Barat, dari Cina Selatan di Utara sampai ke Australia Utara bagian Selatan. Wilayah Asia Tenggara terutama di Indonesia dijumpai paling banyak jenis rotan, dengan jumlah jenis dan volume produksi rotan paling besar. Malaysia, Filipina, Thailand, Kamboja, Laos PDR, Vietnam, India dan Nigeria juga memiliki jumlah jenis dan produksi yang tinggi, tetapi jumlahnya jauh dibawah Indonesia.
Tempat tumbuh rotan pada umumnya di daerah tanah berawa, tanah kering, hingga tanah pegunungan. Tingkat ketinggian tempat untuk tanaman rotan dapat mencapai 2900 meter di atas permukaan laut (mdpl). Semakin tinggi tempat tumbuh semakin jarang dijumpai jenis rotan. Rotan juga semakin sedikit di daerah yang berbatu kapur. Tanaman rotan menghendaki daerah yang bercurah hujan antara 2000mm-4000mm per tahun menurut tipe iklim Schmidt dan Ferguson, atau daerah yang beriklim basah dengan suhu udara berkisar 24 oC-30 oC. Tanaman rotan yang tumbuh dan merambat pada suatu pohon akan memiliki tingkat pertumbuhan batang lebih panjang dan jumlah batang dalam satu rumpun lebih banyak jika dibandingkan dengan rotan yang menerima sedikit cahaya matahari akibat tertutup oleh cabang, ranting dan daun pohon.
2.3. Kegunaan dari Rotan
            Rotan adalah hasil hutan bukan kayu yang tumbuh alami di hutan-hutan tropis, namun saat ini banyak dibudidayakan karena memiliki banyak manfaat. Rotan dapat dijadikan sebagai sumber mata pencaharian dan menyerap tenaga kerja. Nilai ekonomi terpenting dari rotan adalah batangnya. Batang rotan yang sudah tua banyak dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan dan perabot rumah tangga. Batang yang muda digunakan untuk sayuran, akar dan buahnya untuk bahan obat tradisional. Getah rotan dapat digunakan untuk bahan baku pewarnaan pada industri keramik dan farmasi. Manfaat tidak langsung dari rotan adalah kontribusinya meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan, peranannya dalam membentuk budaya, ekonomi, dan sosial masyarakat. Batang rotan dapat dibuat bermacam-macam bentuk perabot rumah tangga atau hiasan-hiasan lainnya. Misalnya mebel, kursi, rak, penyekat ruangan, keranjang, tempat tidur, lemari, lampit, sofa, baki, pot bunga, dan sebagainya.
2.4. Distribusi dan Pemasaran Rotan
            Pola distribusi pemasaran rotan ada dua yaitu dari petani ke pedagang pengumpul pertama ke pedagang pengumpul kedua kemudian ke konsumen dan pola distribusi dari petani ke pedagang pengumpul pertama langsung kepada konsumen. Selisih harga yang ditetapkan pedagang pengumpul kedua pada pola pertama berkisar Rp.3000 sampai Rp.5000. Sistem penjualan dari petani ke pedagang pertama kemudian ke konsumen umumnya dalam skala besar untuk mengurangi biaya. Umumnya pengrajin memproduksi kerajinan berdasarkan pesanan, dimana sistem ini memiliki kelemahan yaitu pengrajin tidak mempunyai akses informasi penjualan komoditas yang memiliki pasar. Hal ini memaksa pedagang besar memesan kepada pengrajin dan kompensasi memberikan kemudahan penyediaan bahan baku.
Pada umumnya rantai penjualan dan perdagangan rotan dari petani rotan kepada pengumpul rotan lokal ke pengumpul besar selanjutnya ke industri rotan di luar daerah. Petani rotan pada umumnya melakukan pemungutan dan pemanenan rotan dari hutan-hutan sekitar tempat tinggal (yang sudah diklaim menjadi milik sebagai bekas perladangan turun temurun) dan kebun-kebun rotan yang ditanam sendiri selanjutnya dilakukan penjualan bebas kepada pedagang pengumpul atau diolah lebih dulu melalui proses pemilihan, pengawetan dan pemutihan (diblerang) dengan tingkat rendemen mencapai 70%-80%. Harga jual rotan diolah terlebih dahulu memiliki nilai jual yang tinggi dari pada rotan basah yang dijual langsung setelah panen oleh petani rotan.


BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
11. Rotan merupakan tumbuhan yang tergolong dalam kelompok palem-paleman yang hidupnya merambat dan termasuk dalam golongansub-famili calamoideae.
22. Tingkat ketinggian tempat untuk tanaman rotan dapat mencapai 2900 meter di atas permukaan laut (mdpl). Semakin tinggi tempat tumbuh semakin jarang dijumpai jenis rotan.
33. Nilai ekonomi terpenting rotan adalah batangnya. Karena, banyak digunakan untuk bahan baku kerajinan dan perabotan rumah tangga. Sementara getah rotan digunakan untuk bahan pewarna pada industri keramik dan farmasi.
44. Pemasaran rotan dilakukan dengan beberapa tahap yaitu : pengumpulan pertama dari petani ke pedagang, pengumpul kedua kemudian ke konsumen dan ada  langsung kepada konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Agus A. Kunut  , Arief Sudhartono , Bau Toknok . 2014. Aragaman Jenis Rotan (Calamus Spp.) Di Kawasan Hutan Lindung Wilayah Kecamatan Dampelas Sojol Kabupaten Donggala. Jurnal Warta Rimba 2 (2) : 102-108.

Alam, S., dkk. 2009. Buku Ajar: Ekonomi Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan : Universitas Sumatera Utara.

Hartini, G. 2012. Perkembangan Material Rotan dan Penggunaan di Dunia Desain Interior. Jurnal Humanora. 3 (2) : 494-503.

Moko, H. 2008. Menggalakan Hasil Hutan Bukan Kayu sebagai Produk Unggulan. Jurnal Informasi Teknis. 6 (2) : 1-5.

Riantono, Gusti Hardiansyah, Burhanuddin.2018. Pemanfaatan Rotan Oleh Masyarakat Desa Meragun Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau. Jurnal Hutan Lestari 6 (3) : 664 – 672.

Sahwalita. 2014. Rotan sebagai Produk Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Unggulan.

Tampubolon1 , Irawati Azhar2 , Tito Sucipto. 2013. Analisis Pemasaran Produk Rotan Olahan Di Kota Binjai. Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.