Paper
Penilaian Hutan Medan, September 2019
MANFAAT DAN NILAI EKONOMI ROTAN (Calameae) SEBAGAI SALAH SATU KOMODITI
KEHUTANAN
Dosen Penanggungjawab :
Agus
Purwoko, S.Hut, M.Si
Disusun Oleh :
Rifai
171201038
Manejemen Hutan 5
PROGRAM STUDI KEHUTANAN
FAKULTAS KEHUTANAN
UNIVERSITAS SUMATERA
UTARA
2019
KATA PENGANTAR
Puji
syukur penulis ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa, karena atas berkat dan
karunia-Nya penulis dapat menyelesaikan paper ini tepat pada waktunya. Adapun judul makalah ini adalah “Manfaat
dan Nilai Ekonomi Rotan (Calameae) sebagai Salah Satu Komoditi
Kehutnan“ Pada kesempatan ini
penulis mengucapkan terimakasih kepada Agus Purwoko, S.Hut., M.Si selaku dosen mata kuliah Penilaian Hutan.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh
dari kesempurnaan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi terciptanya laporan yang lebih baik lagi. Akhir kata penulis
mengucapkan terima kasih.
Medan,
September 2019
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR........................................................................................... i
DAFTAR ISI........................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ................................................................................... 1
1.2 Rumusan masalah................................................................................ 2
1.3Tujuan ................................................................................................. 2
BAB 2 ISI
2.1. Apa itu
Rotan....................................................................................... 3
2.2 Dimana tempt tumbuh dan penyebaran Rotan...................................... 3
2.3 Apa kegunaan dari
Rotan...................................................................... 4
BAB 3 PENUTUP
3.1 Kesimpulan .......................................................................................... 6
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
Hutan adalah suatu lapangan bertumbuhan pohon-pohon yang
secara keseluruhan merupakan persekutuan
hidup alam hayati beserta alam lingkungannya dan yang ditetapkan pemerintah
sebagai hutan. Jika pengertian hutan ditinjau dari sudut pandang sumberdaya
ekonomi terdapat sekaligus tiga sumberdaya ekonomi, yaitu: lahan, vegetasi
bersama semua komponen hayatinya serta lingkungan itu sendiri sebagai
sumberdaya ekonomi yang pada akhir-akhir ini tidak dapat diabaikan. Sedangkan
kehutanan diartikan sebagai segala pengurusan yang berkaitan dengan hutan, mengandung
sumberdaya ekonomi yang beragam dan sangat luas pula dari kegiatan-kegiatan
yang bersifat biologis seperti rangkain proses silvikultur sampai dengan
berbagai kegiatan administrasi pengurusan hutan (Alam dkk., 2009).
Keragaman jenis tanaman hutan Indonesia sudah banyak
diketahui manfaatnya, baik manfaat langsung (tangible) maupun manfaat tidak
langsung (intangible). Tercatat 30.000 – 40.000 jenis tumbuhan tersebar di seluruh
kepulauan Indonesia. Hasil hutan bukan kayu (HHBK) merupakan komoditas yang
memiliki nilai jual yang cukup potensial serta dapat diandalkan sebagai sumber
pendapatan masyarakat sekitar hutan dan devisa negara. Beberapa jenis
komoditas
yang cukup berperan dalam perdagangan di dalam dan luar negeri antara lain
rotan, kulit gemor, biji tengkawang, kopal, resis/damar, getah jelutung, kayu
manis, gaharu, dan lain-lain (Moko, 2008).
Rotan
merupakan salah satu komoditas hasil hutan bukan kayu yang cukup penting dan
potensial. Rotan juga merupakan tanaman yang tumbuh di daerah tropis, sehingga
tanaman ini banyak dijumpai di Indonesia. Rotan Indonesia mempunyai posisi yang
dominan di pasar dunia, yaitu menguasai 80% bahan baku rotan dunia. Selain di
Indonesia, tanaman produk rotan dapat pula dijumpai di Philipina, Thailand,
Malaysia, India, Vietnam, Madagaskar, dan Maroko. Namum, potensi terbesar saat
ini terdapat di Indonesia (Tampubolon dkk., 2013).
Rotan merupakan salah satu tumbuhan
hutan yang mempunyai nilai komersil cukup tinggi, selain itu sebagai sumber
devisa negara yang pemanfaatannya banyak melibatkan petani (Kalima dan Jasni,
2010). Rotan
pada umumnya tumbuh secara alami, menyebar menyebar mulai dari daerah pantai
hingga pegunungan, pada elevasi 0-2900 mdpl. Secara ekologis rotan tumbuh
dengan subur diberbagai tempat, baik dataran rendah maupun agak tinggi,
terutama di daerah yang lembab seperti pinggiran sungai . Hampir seluruh bagian
rotan dapat digunakan baik sebagai konstruksi kursi, pengikat, maupun komponen
desainnya (Agus dkk., 2014).
Tanaman rotan memiliki berbagai
keunikan, antara lain panjang batang dapat mencapai ± 100 meter walaupun
diameternya hanya sebesar ibu jari tangan dan ibu jari kaki. Batang rotan
memiliki kelenturan dan kekuatan luar biasa, oleh karena itu batang rotan dapat
dibuat menjadi bermacam-macam bentuk perabotan rumah tangga, hiasan-hiasan dan
alat pendukung sehari-hari. Data tahun 2006 menunjukan potensi tegakan rotan di
Kalimantan mencapai 315.181,86 ton kering dari potensi tegakan rotan nasional
2.433.230,45 ton kering. Rotan sangat diperlukan oleh masyarakat dalam kegiatan
keseharian dan masyarakat mengambil rotan lansung dari hutan. Rotan tumbuh
secara alami terutama di hutan primer, hutan sekunder seperti perkebunan
(karet, durian dan tengkawang), tembawang dan tepi sungai (Riantono
dkk., 2018).
Salah satu produk hasil hutan bukan
kayu yang memiliki nilai pasar tinggi adalah rotan. Indonesia mampu memasok 80%
kebutuhan rotan dunia. Hal ini menunjukkan bahwa hutan di Indonesia dapat
merupakan tempat yang sesuai untuk pertumbuhan berbagai jenis rotan. Variasi
jenis rotan yang ada di Indonesia sekitar 312 jenis yang terdiri dari 8 marga
dari 13marga rotan di dunia. Ada 15 jenis rotan yang termasuk komersial (Sahwalita, 2014).
1.2
Rumusan Masalah
1. Apa itu Rotan.
2. Dimana tempat tumbuh dan penyebaran
Rotan.
3. Apa kegunaan dari Rotan.
4. Bagaimana distribusi dan pemasarn Rotan.
1.3
Tujuan
1. Untuk mengetahui apa itu Rotan.
2. Untuk mengetahui dimana tempat tumbuh
dan penyebaran Rotan.
3. Untuk mengetahui apa kegunaan dari Rotan.
4. Untuk mengetahui bagaimana distribusi
dan pemasaran Rotan.
BAB
II
ISI
2.1.
Apa itu Rotan
Rotan
asalnya merupakan tumbuhan yang tergolong dalam kelompok palem-paleman yang
hidupnya merambat. Golongan ini termasuk dalamsub-famili calamoideae yang mempunyai 13 marga dan sekitar 600 jenis hidup
pada kawasan hutan hujan tropis di Asia Tenggara. Kelompok rotan pada umumnya
tumbuh dan dijumpai pada daerah yang beriklim basah. Di Indonesia, jenis ini
dapat di temui di Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan beberapa kepulauan lainnya.
Beberapa laporan menyebutkan bahwa di Jawa dapat dijumpai sekitar 25 jenis,
Sumatera 75 jenis, Kalimantan 100 jenis, dan Sulawesi mencapai 25 jenis. Selain
itu rotan juga dapat dijumpai di beberapa pulau lainnya di Indonesia. Disini
dapat dilihat, Indonesia memiliki sumberdaya alami yang cukup kuat untuk
material rotan.
Rotan
merupakan salah satu tumbuhan hutan yang mempunyai nilai komersil cukup tinggi,
selain itu sebagai sumber devisi negara yang pemanfaatannya banyak melibatkan
petani. Rotan pada umumya tumbuh secara alami, menyebar mulai dari daerah
pantai hingga peguungan, pada elevasi 0-2900 mdpl. Secara ekologis rotan tumbuh
dengan subur diberbagai tempat, baik dataran rendah maupun agak tinggi,
terutama di daerah yang lembab seperti pinggiran sungai. Hampir seluruh bagian
rotan dapat digunakan baik sebagai kontruksi kursi, pengikat, maupun komponen
desainnya. Sifat fisik rotan merupakan sifat khas yang dimiliki oleh suatu
jenis rotan secara alamiah.
2.2. Tempat Tumbuh dan
Penyebaran Rotan
Rotan secara
umum tumbuh baik di daerah hutan hujan tropika. Di dunia, trotan tumbuh
menyebar mulai dari Kepulauan Fiji dibagian Timur sampi Afrika di Barat, dari
Cina Selatan di Utara sampai ke Australia Utara bagian Selatan. Wilayah Asia
Tenggara terutama di Indonesia dijumpai paling banyak jenis rotan, dengan
jumlah jenis dan volume produksi rotan paling besar. Malaysia, Filipina,
Thailand, Kamboja, Laos PDR, Vietnam, India dan Nigeria juga memiliki jumlah
jenis dan produksi yang tinggi, tetapi jumlahnya jauh dibawah Indonesia.
Tempat tumbuh
rotan pada umumnya di daerah tanah berawa, tanah kering, hingga tanah
pegunungan. Tingkat ketinggian tempat untuk tanaman rotan dapat mencapai 2900
meter di atas permukaan laut (mdpl). Semakin tinggi tempat tumbuh semakin
jarang dijumpai jenis rotan. Rotan juga semakin sedikit di daerah yang berbatu
kapur. Tanaman rotan menghendaki daerah yang bercurah hujan antara
2000mm-4000mm per tahun menurut tipe iklim Schmidt dan Ferguson, atau daerah
yang beriklim basah dengan suhu udara berkisar 24 oC-30 oC. Tanaman rotan yang
tumbuh dan merambat pada suatu pohon akan memiliki tingkat pertumbuhan batang
lebih panjang dan jumlah batang dalam satu rumpun lebih banyak jika
dibandingkan dengan rotan yang menerima sedikit cahaya matahari akibat tertutup
oleh cabang, ranting dan daun pohon.
Rotan
adalah hasil hutan bukan kayu yang tumbuh alami di hutan-hutan tropis, namun saat
ini banyak dibudidayakan karena memiliki banyak manfaat. Rotan dapat dijadikan
sebagai sumber mata pencaharian dan menyerap tenaga kerja. Nilai ekonomi
terpenting dari rotan adalah batangnya. Batang rotan yang sudah tua banyak
dimanfaatkan untuk bahan baku kerajinan dan perabot rumah tangga. Batang yang
muda digunakan untuk sayuran, akar dan buahnya untuk bahan obat tradisional.
Getah rotan dapat digunakan untuk bahan baku pewarnaan pada industri keramik
dan farmasi. Manfaat tidak langsung dari rotan adalah kontribusinya
meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan, peranannya dalam membentuk
budaya, ekonomi, dan sosial masyarakat. Batang rotan dapat dibuat
bermacam-macam bentuk perabot rumah tangga atau hiasan-hiasan lainnya. Misalnya
mebel, kursi, rak, penyekat ruangan, keranjang, tempat tidur, lemari, lampit,
sofa, baki, pot bunga, dan sebagainya.
2.4. Distribusi dan
Pemasaran Rotan
Pola
distribusi pemasaran rotan ada dua yaitu dari petani ke pedagang pengumpul
pertama ke pedagang pengumpul kedua kemudian ke konsumen dan pola distribusi
dari petani ke pedagang pengumpul pertama langsung kepada konsumen. Selisih
harga yang ditetapkan pedagang pengumpul kedua pada pola pertama berkisar
Rp.3000 sampai Rp.5000. Sistem penjualan dari petani ke pedagang pertama
kemudian ke konsumen umumnya dalam skala besar untuk mengurangi biaya. Umumnya
pengrajin memproduksi kerajinan berdasarkan pesanan, dimana sistem ini memiliki
kelemahan yaitu pengrajin tidak mempunyai akses informasi penjualan komoditas
yang memiliki pasar. Hal ini memaksa pedagang besar memesan kepada pengrajin
dan kompensasi memberikan kemudahan penyediaan bahan baku.
Pada umumnya
rantai penjualan dan perdagangan rotan dari petani rotan kepada pengumpul rotan
lokal ke pengumpul besar selanjutnya ke industri rotan di luar daerah. Petani
rotan pada umumnya melakukan pemungutan dan pemanenan rotan dari hutan-hutan
sekitar tempat tinggal (yang sudah diklaim menjadi milik sebagai bekas
perladangan turun temurun) dan kebun-kebun rotan yang ditanam sendiri
selanjutnya dilakukan penjualan bebas kepada pedagang pengumpul atau diolah
lebih dulu melalui proses pemilihan, pengawetan dan pemutihan (diblerang)
dengan tingkat rendemen mencapai 70%-80%. Harga jual rotan diolah terlebih
dahulu memiliki nilai jual yang tinggi dari pada rotan basah yang dijual
langsung setelah panen oleh petani rotan.
BAB
III
PENUTUP
Kesimpulan
11. Rotan merupakan tumbuhan yang tergolong
dalam kelompok palem-paleman yang
hidupnya merambat dan termasuk dalam golongansub-famili calamoideae.
22. Tingkat ketinggian tempat untuk tanaman
rotan dapat mencapai 2900 meter di atas permukaan laut (mdpl). Semakin tinggi
tempat tumbuh semakin jarang dijumpai jenis rotan.
33. Nilai ekonomi terpenting rotan adalah
batangnya. Karena, banyak digunakan untuk bahan baku kerajinan dan perabotan
rumah tangga. Sementara getah rotan digunakan untuk bahan pewarna pada industri
keramik dan farmasi.
44. Pemasaran rotan dilakukan dengan
beberapa tahap yaitu : pengumpulan pertama dari petani ke pedagang, pengumpul
kedua kemudian ke konsumen dan ada langsung kepada konsumen.
DAFTAR PUSTAKA
Agus A. Kunut , Arief Sudhartono , Bau Toknok . 2014. Aragaman Jenis
Rotan (Calamus Spp.) Di Kawasan Hutan Lindung Wilayah Kecamatan Dampelas Sojol
Kabupaten Donggala. Jurnal Warta
Rimba 2 (2) : 102-108.
Alam, S., dkk. 2009. Buku Ajar: Ekonomi
Sumberdaya Hutan. Fakultas Kehutanan : Universitas Sumatera Utara.
Hartini, G. 2012. Perkembangan Material
Rotan dan Penggunaan di Dunia Desain Interior. Jurnal Humanora. 3 (2) :
494-503.
Moko, H. 2008. Menggalakan Hasil Hutan
Bukan Kayu sebagai Produk Unggulan. Jurnal Informasi Teknis. 6 (2) : 1-5.
Riantono, Gusti Hardiansyah, Burhanuddin.2018. Pemanfaatan
Rotan Oleh Masyarakat Desa Meragun Kecamatan Nanga Taman Kabupaten Sekadau. Jurnal
Hutan Lestari 6 (3) : 664 – 672.
Sahwalita. 2014. Rotan sebagai Produk
Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) Unggulan.
Tampubolon1 , Irawati Azhar2 , Tito Sucipto. 2013. Analisis Pemasaran Produk Rotan Olahan Di Kota Binjai. Program Studi Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Sumatera Utara.

Mantep gan, lanjut gan, keren gan, thx infonya gan
ReplyDeletesgt membantu ya
Deletethanks untuk yang sudah membaca semoga apa yng saya tulis dapat membantu kalian
DeleteTerimakasih infonya bro
ReplyDeletesama-sama mbak semoga membantu
DeleteRotan is the best
ReplyDeletethanks uda singgah ke blog saya
DeleteManteb uy
ReplyDeleteKeren
Lnjutin yaaa gan
Thank infony :)
thanks uda mampir ke blog saya, semoga membantu.
DeleteSangat membantu saya dalam menambawah wawasan
ReplyDeleteWew kali kok, makasih bg atas infonya
ReplyDelete